5 Kasus Pembunuhan Sadis di Jepang
5 Kasus Pembunuhan Sadis di Jepang

5 Kasus Pembunuhan Sadis di Jepang


Jepang dikenal dengan kedisiplinan masyarakatnya yang sangat tinggi, mungkin itu salah satu faktor yang membuat Jepang saat ini, menjadi salah satu negara paling disiplin dan masyarakatnya taat hukum. Tindak kriminalitasnya terbilang cukup rendah dan Jepang masuk dalam jajaran negara teraman di Asia bahkan Dunia.Tetapi bukan berarti masyarakatnya bebas dari tindak kriminal. Bahkan dalam sejarahnya di Jepang pernah terjadi beberapa kasus Pembunuhan yang sangat sadis,

Dan memang kasus pembunuhan ini seperti plot film thriller atau novel-novel sejenis.

#1. Otaku Killer

Udah pasti tahu juga kan istilah Otaku, yaitu istilah yang mulai dikenal di luar Jepang untuk menyebut penggemar berat subkultur asal Jepang seperti anime dan manga.

Julukan Otaku Killer diberikan kepada seorang pria bernama Tsutomu Miyazaki kelahiran 21 Agustus 1962 yang atas kegemaran pembunuh ini pada komik dan anime. Dan juga diketahui Tsutomo mengidap nekraofilian. Ia membantai beberapa anak kecil dengan sangat sadis. Memutilasi tubuh korban sampai memakan dagingnya.

Tsutomu Miyazaki lahir dengan cacat bawaan yaitu jari-jari tangan dan kakinya saling melekat satu sama lain akibat terlahir prematur. Kondisi ini membuat Tsutomu Miyazaki menjadi anak yang pendiam dan pemalu. Di Rumah, kedua orang tua serta dua saudara perempuan Tsutomu seolah tak mengakui keberadaa dirinyanya. Hal itu membuat Tsutomu kecil mengalami masa kecil yang suram.
pembunuhan sadis
Satu-satunya orang yang mau menerima Tsutomo adalah kakeknya. Ia menyayangi secara tulus cucunya itu. Tetapi pada tahun 1988 sang kakek meninggal. Saat itu Tsutomo mengalami depresi berat, yang membuatnya sampai memakan sebagian abu kremasi kakeknya. Kegilaan ini memuncak saat ulang tahunnya yang ke 26, dimana Tsutomu untuk pertama kalinya merayakan ulang tahunya tanpa kehadiran sang kakek.

Kala itu satu hari kemudian Ia menculik seorang gadis kecil bernama Mari Konno (4 tahun) lalu membunuhnya. Mayat Mari sempat di buang, tetapi beberapa hari kemudian Pria itu kembali lagi ke lokasi pembuangan mayat dan mengambil tangan serta kaki dari mayat Mari yang telah mulai membusuk. Kemudian Tsutomo menyimpan potongan tangan dan kaki itu di dalam lemari sebagai trofi.

Korban selanjutnya bernama Masami Yoshizawa (7 tahun) Ia melakukan hal yang sama pada anak perempuan itu. Masami diculik dan dibunuh di tempat yang sama dengan Mari Konno.

Aksi paling sadis yang pernah dilakukan Tsutomo adalah pada Ayako Nomoto (5 tahun) yang dibunuh sekaligus dimulitasi. Tsutomu juga menyimpan potongan tangannya seperti yang lain. Namun kal ini tak cukup sampai disitu Ia juga meminum darah anak perempuan tersebut dan memakan dagingnya.

Aksi Tsutomu baru berakhir pada tahun 1989 saat polisi berhasil menangkapnya atas tuduhan pelecehan sexual terhadap anak  dibawah umur. Dan saat menggeledah tempat tinggal Tsutomu untuk mencari barang bukti, polisi justru menemukan potongan tubuh para korban Tsutomu yang tersimpan bersama ribuan materi yang berbau Anime dan Manga.
Tetapi di persidangan, pembunuh itu terus menyangkal perbuatannya. Ia malah menyalahkan alter egonya yaitu kepribadian gandanya yang bernama Rat Man.

Menurut Tsutomu Rat Man inilah yang melakukan pembunuhan sadis tersebut. Ia sampai mengambar Rat Man untuk meyakinkan petugas. Tak ada yang mau percaya cerita Tsutomu. Ayah Tsutomu sendiri bahkan menolak membayar pengacara untuk membela anaknya hingga akhirnya pada tahun 1997, pria sakit itu dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi dengan cara digantung pada tahun 2008.

Dan selama Ia belum tertangkap Tsutomu seringkali menelepon keluarga korban. Apabila diangkat, pria itu hanya diam tak mengatakan apapun, tapi jika tidak diangkat maka dia akan menelepon terus menerus. Sakit!

#2. Akihabara Massacre

pembunuhan sadis
Akihabara adalah sebuah distrik yang terkenal sebagai pusat penjualan komik dan juga anime di Jepang. Di tempat itu pada tahun 2008 yang lalu, Jepang digemparkan dengan sebuah kasus pembunuhan massal Seorang pria bernama Tomohiro Kato menggunakan mobil sewaan menabrak 5 orang pejalan kaki dan menewaskan 3 orang di antaranya.

Tak sampai disitu, Tomohiro kemudian keluar dari mobilnya dan secara membabi buta menusuk 12 orang lainya, dimana 4 di antaranya meninggal. Perlu 17 ambulan guna menyelamatkan para korban. Kasus ini sendiri dipicu oleh hal sepele, dimana 3 hari sebelumnya Tomohiro terlibat perselisihan dengan salah satu rekan kerjanya, yang Ia curigai menyembunyikan baju kerja milik Tomohiro. Setelah perselisihan itu, Tomohiro tak muncul di tempat kerjanya sampai hari dimana tragedi tersebut terjadi.

Tomohiro terlahir di Aomori, Honshu pada 28 September 1982, Tomohiro sebenarnya dikenal sebagai siswa yang berprestasi saat masih di SD dan SMP. Namun hal itu berubah 180 derajat ketika bersekolah di Aomori High School yang merupakan salah satu sekolah elite di Jepang. Disekolah tersebut Tomohiro tak begitu diterima karena merupakan seorang Otaku.
pembunuhan sadis

Hal itu membuatnya rendah diri yang berdampak pada penurunan prestasi akademisnya yang begitu drastis hingga Ia akhirnya gagal masuk ke Universitas Hokaido. Keadaan Tomohiro diperparah dengan tuntutan kedua Orang tuanya agar menjadi siswa berprestasi. Mereka sangat keras pada Tomohiro, dan sering menghukumnya jika gagal , Tomohiro bahkan diketahui pernah harus memakan makanan yang sudah jatuh ke lantai atau disuruh berdiri di luar rumah saat musim dingin sebagai hukuman dari orang tuanya.

Akibatnya Tomohiro tertekan, bahkan pernah mencoba bunuh diri dengan menabrakan mobilnya, namun gagal. Sampai akhirnya hari dimana tragedi tersebut akhirnya terjadi, kasus pembantaian yang dilakukan oleh Tomohiro ini dianggap spesial di Jepang karena apa yang dilakukan oleh Tomohiro ternyata telah menginspirasi perubahan pada Aomori High School, sekolahnya yang dulu.

Akibat kasus ini saudara laki-laki Tomohiro melakukan bunuh diri karena malu terhadap ulah kakaknya. Saat ini Tomohiro sendiri masih menjalani masa tahananya sambil mengunggu eksekusi mati yang dijatuhkan padanya pada tahun 2014 yang lalu.

#3. Tsuyama Massacre

pembunuhan sadis
Ada kasus pembunuhan di dunia nyata yang mirip dengan kisah serial tv “Harper’s Island” (2009).  Peristiwa tersebut terjadi pada 21 Mei 1938 di sebuah desa terpencil yang bernama Desa Kaio. Letaknya tidak jauh dari kota Tsuyama, Okayama, Jepang.

Entah setan apa yang membisiki seorang pemuda bernama Mutsuo Toi (21), hingga ia tega membantai hampir seluruh warga yang ada di desanya. Pertama, Mutsuo memadamkan listrik rumah di seluruh desanya. Lalu saat kondisi desanya gelap gulita inilah, Matsuo mulai melancarkan aksinya. 30 dibantai dalam gelap. Ia menggunakan berbagai macam alat, mulai dari senapan, kapak, sampai pedang samurai.

Diketahui kemudian, salah satu warga yang dibantai Mutsuo adalah neneknya sendiri. Aksi pemuda itu baru berakhir saat fajar dimana akhirnya dia memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri dengan pistol. Dalam peristiwa itu hampir separuh warga desa Kaio tewas mengenaskan.

#4. Kobe Child Murders

pembunuhan sadis
Jepang pernah geger dengan ditemukannya sebuah potongan kepala di Sekolah Dasar Taihonata pada tanggal 27 Mei 1997. Potongan kepala ini kemudian diketahui adalah kepala seorang murid di sekolah tersebut yang bernama Jun Hase. Murid itu (Jun Hase) dimutilasi dengan cara yang sadis yaitu digergaji.

Dalam mulutn potongan kepala itu tersumpal sebuah kertas dengan pesan misterius. Dalam pesan tersebut si pembunuh yang mengaku bernama Sakakibara menulis sebuah tantangan pada Polisi yang kurang lebih berbunyi :

“Ini merupakan permulaan dari permainan. Kalian para polisi cobalah menghentikanku bila kalian bisa. Aku sangat ingin sekali lihat orang-orang mati, sangat menegangkan untukku melakukan pembunuhan. Sebuah pembalasan yang setimpal dengan penderitaanku selama bertahun-tahun”

Banyak yang mengira bahwa kasus ini akan memakan waktu cukup lama untuk dipecahkan, namun tidak disangka, polisi dengan cepat memecahkan kasusnya dan akhirnya berhasil menangkap seorang anak berumur 14 tahun yang diduga melakukan pembunuhan tersebut.

Pembunuh yang masih 14 tahun itu tidak dipublikasikan identitasnya. Ia hanya diberi julukan “Boy A” untuk memudahkan penyelidikan. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ditemukanya fakta bahwa kasus pembunuhan ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh “Boy A”. Dalam pengakuannya Ia mengatakan  pernah membunuh seorang gadis berusia 10 tahun yang bernama Ayaka Yamashita. Dalam buku hariannya Ia menuliskan:

“Aku melakukan sebuah eksperimen hari ini guna membuktikan betapa rapuhnya manusia, aku memukulnya mengunakan palu, saat anak perempuan itu menoleh padaku. Aku pikir aku akan memukulnya berkali-kali, tapi aku terlalu asik untuk bisa mengingatnya berapa kali aku memukulnya”

Meski kejadian ini terbilang sangat serius dan menguncang publik Jepang, terlebih melihat kejahatan yang dilakukan oleh “Boy A” ini masuk dalam kejahatan kelas berat, ia hanya dijatuhi hukuman kurungan penjara karena dianggap masih berada di bawah umur. Keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan usianya yang masih muda.

Akhirnya Pada tahun 2004,  Boy A yang saat itu sudah berumur 21 tahun dibebaskan. Namun hal ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat Jepang karena setelah tiga bulan si Boy A dibebaskan, kasus yang hampir sama kembali terulang.

#5. Osaka School Massacre

pembunuhan sadis
Mamoru Takuma terlahir pada 23 November 1963 di Osaka sudah didiagnosis memiliki sifat Psikopatik sedari kecil, yang menjurus pada sifat agresif. Takuman memperlihatkan gejala “Macdonalds Triad” yaitu sebuah indikator psikopatik yang dibuat oleh seorang psikolog terkenal dunia,  JM MacDonald.

Gejala “Macdonalds Triad” ini sendiri meliputi tindakan kejam terhadap hewan, suka membakar apa saja, dan paling menonjol adalah kebiasaan mengompol di atas usia 5 tahun. Tiga kebiasaan tersebut dipercaya hanya akan muncul pada seseorang yang berpotensi menjadi pembunuh berantai. Dan semua gejala tersebut ada pada diri Takuma.

Pada umur 12 tahun Takuma diketahui pernah dan sering membunuh kucing dengan cara membungkusnya menggunakan koran lalu kemudian membakarnya sampai bungkusan kucing itu sampai mati.

Sifat agresinya terus berkembang dan membuat Takuma banyak terlibat masalah, salah satunya adalah ketika Takuma SMA. Ia melakukan penyerangan terhadap gurunya sendiri yang menyebabkan dia dikeluarkan dari sekolah. Takuma juga pernah berkelahi dengan ayahnya sendiri. Kemudian ayahnya mengirim Takuma ke Rumah sakit jiwa.

Pihak RSJ menolak Takuma, karena mengganggap anak muda itu baik-baik saja. Sejak saat itu sang Ayah sudah tak mau lagi mengakui anak pada Takuma. Ia mengusirnya dari rumah. Takuma pergi dan sempat jadi supir taksi, dan bahkan pernah diterima di angkatan udara, tapi akhirnya dikeluarkan karena masalah kekerasan dan pelecehan seksual.

Takuma juga pernah menikah sebanyak 4 kali dan selalu kandas. Hingga terakhir Ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah sekolah. Di sekolah inilah seorang Takuma mulai menunjukan gejala agresif yang tinggi dengan meracuni 4 guru di sekolah tersebut tanpa alasan yang jelas. Ia Kemudian dimasukan di RSJ dan didiagnosa menderita skizofrenia.

Selama di RSJ tersebut, dia sempat melakukan bunuh diri berkali-kali namun selalu gagal. Setelah dianggap sembuh Takuma akhirnya dikeluarkan dari sana. Namun pada tahun 2001, dia mendaftarkan dirinya kembali ke RSJ untuk mencari bantuan atas depresinya. Namun sehari kemudian ia melarikan diri.

Lantas tepat pada bulan Juni 2001, dia akhirnya lepas kendali dan mengamuk dengan sebuah pisau di tangannya. Takuma menyerang Ikeda Elementary School dan berhasil menusuk 8 anak kelas 1 dan 2 SD hingga tewas juga melukai 13 anak dan 2 guru. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu tragedi terbesar yang pernah menimpa negara Jepang. Akibat perbuatanya Takuma akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Di persidangannya Takuma sama sekali tak membela diri, Ia bahkan meminta hakim untuk segera menjatuhinya hukuman mati. Pada tahun 2004 dia digantung.

(dari berbagai sumber)

Baca juga:

Admin
Opreker jarang mandi


EmoticonEmoticon